Oges Lecep
January 27, 2011 at 11:41 pm01 | Posted in Uncategorized | Leave a commentOges Lecep
Mungkin Anda akan menyipitkan mata dan berpikir untuk mengerti judul di atas. Begitulah, bagi siapapun yang baru pertama kali berkunjung ke kota Malang. Selain banyaknya bangunan peninggalan Belanda, Malang juga terkenal dengan bahasa walikan (kebalikan).
Suatu saat, ketika saya akan membayar biaya browsing di warung internet. Sang kasirpun berkata “Makasih sam…”. Saya pun membalasnya “Sam apa tho maksudnya Mas…saya bukan sam…”. Sambil tersenyum, kasir tadi berkata “Sam itu maksudnya Mas…biasa walikan Mas…”.
Rupanya, kera ngalam (sebutan untuk orang Malang yang berasal dari kata arek Malang) menciptakan suatu tren berbahasa yaitu dengan membalikkan kata dalam suatu kalimat atau seluruhnya. Pernah juga saya menjadi bingung ketika akan bertandang ke kos-kosan teman dengan angkot. Di kaca depan angkot tertulis Irasojra-Oyonid-Irasgnudnal dan sesuai pesan teman, bahwa saya nanti harus mencegat angkot biru dengan tulisan ADL. Dengan ragu-ragu saya menaiki angkot tersebut walaupun tulisan ADL benar-benar terlihat jelas. Rupanya tulisan tadi dibaca Arjosari-Dinoyo-Landungsari.
Tulisan walikan ini, juga banyak terpampang di sebagian warung-warung dagangan makanan di sekitar alun-alun kota Malang. Tersedia odag-odag, nasi lecep, maya goreng dan tahu rupmac maksudnya gado-gado, nasi pecel, ayam goreng serta tahu campur. Saya juga pernah menjumpai rumah makan cukup laris, entah karena iseng atau alasan apa. Di daftar menunya tertera pac yac (cap cay), uaitewk suber (kwetiau rebus) dan ada satu menu cukup rumit melafalkannya yaitu rumaj gnerog krispy iakap kobmol sadep (jamur goreng krispy pakai lombok pedas). Untuk membacanya akan menguras tenaga kita sehingga kita akan bertambah lapar. Hehehe…
Walikan-walikan ini juga merambah isi SMS. Ketika seorang teman ingin mengajak untuk bermain futsal, maka diapun meng-SMS yang isinya,”Tom, ayo main lastuf, maj 4 bawa teman 1 lagil biar pas itnan mainnya, cap cus…”. Walah-walah membacanya saja membuat jengkel, dan akhirnya saya pun mengerti artinya setelah 10 menitan memandang layar Handphone (HP) yaitu “Tom, ayo main futsal, jam 4 bawa teman 1 lagi biar pas nanti mainnya, segera…”.
Di satu waktu perkuliahan tepatnya sesi diskusi, seorang teman meminta persetujuan atas argumennya. Tanpa disangka, dosen menjawab “oyi betul…”. Seluruh isi kelas terpaku mendengar kata “oyi” yang berarti “iya” keluar dari bibir pak dosen.
Kata walikan ini telah menjadi kebiasaan bagi warga kota Malang. Tidak memandang individu, semuanya mahir bercuap-cuap walikan. Ibarat mengisi teka teki silang, ada kepuasan tersendiri jika kita mampu mengartikan tulisan-tulisan walikan tersebut. Hingga saat ini, saya masih belum mampu mengetik SMS walikan dengan cepat.
Jadi, apabila Anda berwisata ke kota Malang. Anda harus siap-siap menjumpai tempat-tempat bernama aneh walaupun tempatnya tidak seaneh namanya. (Surya, Kamis 27 Januari 2011)
Machiavelli Dan Gayus
January 10, 2011 at 11:41 am01 | Posted in Uncategorized | Leave a commentMachiavelli Dan Gayus
Ketika seorang pembaca yang bernama Devina menulis bahwa dia bertemu dengan Gayus, maka berita tersebut menjadi heboh. Banyak orang menjadi emosi. Mengapa Gayus begitu mudahnya lolos dari tahanan. Gayus membuat heboh Indonesia di tahun 2010 hingga tahun 2011.
Seharusnya pihak berwajib atau siapapun yang terkait masalah Gayus, tidak wajib untuk mempercayai apa yang dikatakan Ibu Devina. Karena patut diketahui juga bahwa ada teori yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki tujuh kembaran di seluruh dunia. Begitu juga Gayus memiliki kembaran sebanyak enam orang lagi di belahan negara lainnya.
Saya pun sering melihat sosok Gayus bahkan semenjak Gayus belum populer. Gayus yang saya lihat adalah seorang pegawai di dalam kampus. Karena dengan mempercayai begitu saja tanpa berusaha untuk memperbaiki sistem keamanan yang ada, ibarat menunjukkan kebobrokannya kepada publik. Kita bukan tinggal di negara tanpa hukum. Kita juga bukan masyarakat yang langsung main hakim sendiri ketika ada seorang keterbelakangan mental sedang mendorong sebuah sepeda motor. Curiga yang berlebihan tetaplah tidak baik. Tampaknya juga Gayus menerapkan sebagian teori Machiavellisme dalam setiap kasusnya. Machiavellisme yang telah ada semenjak manusia Adam dan Hawa kemudian dipopulerkan lagi oleh Niccolo Machiavelli. Teori ini lebih berorientasi kepada praktik kotor seperti yang dilakukan Gayus.
Seyogyanya dengan banyaknya ulah Gayus yang telah merobek-robek bendera hukum di Indonesia, kita harus segera melaksanakan hukum secara represif. Kita kesampingkan sejenak pemikiran bahwa hukum itu adalah masyarakat. Sebab jika kita tidak segera bertindak represif, maka keadaan hukum di Indonesia akan tetap jalan di tempat. Para pelaku KKN tidak akan memiliki rasa takut. Mereka tetap saja tumbuh subur di Indonesia. Adakalanya negara bertindak otoriter walaupun timbul pertentangan dimana-mana. Gayus tampaknya juga terkena “gejala” katarsis yang mana keadaan psikologis ini dapat berbahaya bagi kondisi mental dan psikologis yang bersangkutan jika semua kemarahannya tetap terpendam atau tidak terlepaskan.
Mudah-mudahan saja setelah surat pembaca ini muncul, saya tidak diciduk aparat karena telah melihat Gayus sejak lama. Mari kita benahi sistem hukum di Indonesia demi kita semua. (Duta Masyarakat, Senin 10 Januari2011)
Meningkatkan Semangat Bersekolah
January 7, 2011 at 11:41 pm01 | Posted in Uncategorized | Leave a commentMeningkatkan Semangat Bersekolah
Rasanya anak-anak sekarang tidak memiliki niat untuk bersekolah karena semakin mudahnya mereka memperoleh informasi. Cukup dengan sebuah komputer atau laptop yang terkoneksi dengan dunia maya, maka segala informasi akan diperoleh. Baik itu informasi yang belum diajarkan pada bangku kelas 3 SD (seperti pelajaran mengenai rumus-rumus kimia) hingga informasi yang tidak diajarkan di sekolah (seperti cara membuat obat-obatan terlarang).
Seharusnya para guru benar-benar menomorsatukan bagaimana agar para murid semangat kembali bersekolah, mereka harus menjadikan sekolah sebagai bagian hidupnya. Seringkali para orang tua murid lebih memilih untuk mensekolahkan anaknya di sekolah swasta. Biarpun mahal yang penting anak menjadi pintar.
Sebaiknya pemikiran sekolah swasta lebih unggul daripada sekolah negeri segera dibuang. Karena cerdas atau tidaknya seorang murid semata-mata karenakemampuan dirinya sendiri.
Guru tidak memegang posisi dominan dalam kepintaran anak. Guru seharusnya juga wajib melakukan penelitian yang poinnya menuju peningkatan semangat anak dalam bersekolah. Kita juga sering melihat di suatu pulau terpencil, bahwa seorang anak lebih suka bekerja daripada bersekolah karena orang tuanya berkata “untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi, nanti juga jadi nelayan seperti bapak”.
Dari ilustrasi tersebut, sekolah tidak hanya sekadar memberi pelajaran atau memberi hafalan. Sekolah wajib juga memberi ilmu pengetahuan yang tepat bagi seorang anak. Artinya jangan sampai keahlian guru digunakan tidak pada semestinya. Sebagai contoh saja, saya memliki seorang teman yang bergelar sarjana hukum namun keahlian hukumnya menjadi sia-sia belaka karena dia menjadi seorang guru SD yang mengajar Matematika. Kebetulan juga teman saya cukup mahir dalam hitung-hitungan. Nah , jika terjadi demikian siapakah yang patut disalahkan?
Jadi alangkah baiknya juga jika suatu mata pelajaran diasuh oleh individu yang berkompeten. Sekolah bukanlah ajang pamer embel-embel seperti berstandar internasional, dwi bahasa (Indonesia dan Inggris), bebas biaya resmi (namun tetap saja ada pungutan), gedung yang bertingkat, ruang kelas ber-AC, dan kegiatan ekstrakurikuler yang wah (seperti golf atau bowling).
Sekolah adalah tempat menuntut ilmu. Jika para pihak yang berkwenangan dalam mengurus pendidikan di Indonesia selalu mengganti secara rutin sistem pendidikan yang diguanakn dalam sekolah mungkin saja suatu saat nanti, sekolah akan tinggal nama saja. Jadi tanpa bersekolah, seseorang dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas. (Duta Masyarakat, Jumat 7 Januari 2011).
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.