LOMBA MENULIS BUKU

February 29, 2012 at 11:41 pm02 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lomba Menulis Buku
Kami dari selaku editor buku membuka lomba menulis bunga rampai dengan syarat
a. Penulis minimal berusia 18 tahun dan bebas dari kalangan apapun
b. Tulisan dapat berupa opini ilmiah/kajian konseptual/kajian teori yang sifatnya membawa pengetahuan baru dalam masyarakat
c. Tulisan harus sesuai dengan disiplin ilmu yang terdapat dalam tiap universitas atau sekolah tinggi di Indonesia kecuali bahasa asing yaitu dengan cara di samping judul ditulis disiplin ilmu yang terkait. (contoh: Eksistensi Wayang Terhadap Perkembangan Seni Di Indonesia-Seni, Pengaruh Jejaring Sosial Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia-Bahasa Indonesia, Siapakah Duta Besar Sebenarnya Dalam Kajian Hukum Tata Negara-Hukum, Pengaruh Metakognitif Bagi Guru Biologi di Daerah X-Pendidikan Biologi)
d. Menyerahkan biodata singkat, hasil skan KTP dikirim melalui email dilengkapi dengan alamat email serta nomor HP
e. Satu naskah boleh terdiri dari maksimal 2 orang/2 nama
f. Tulisan diketik pada a4 dengan huruf Calibri ukuran 12; spasi 1,5; 13-20 halaman, dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD. Naskah dikirim ke A_LOS_TESALONICENSES@YAHOO.COM dengan subjek NAMA_DISIPLIN ILMU TERKAIT (contoh: Luciano_Olahraga)
g. Setiap tulisan yang memenuhi syarat akan digabung beserta peserta yang lolos lainnya dan akan dijadikan buku (tiap penulis akan memperoleh 1 buku dan dikirim ke alamat masing-masing)
h. Bagi penulis yang memenuhi syarat akan memperoleh balasan dari kami via email atau SMS, dan mentransfer biaya pendaftaran sebesar Rp. 90.000 ke BANK Mandiri Surabaya 140-00-9-00000-1-0 a/n Veronica Magdalena dan bukti transfer dikirim melalui email
i. Bagi penulis yang tidak memenuhi syarat, naskah akan dikembalikan via email
j. Naskah harus orisinal dan penulis dapat mempertanggungjawabkannya
k. Naskah paling lama diterima tanggal 2 April 2012
l. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 081333330187 atau 0819671079 a/n Tomy M Saragih, S.H., M.H.

Machiavellisme Terkait Pencurian Oleh Remaja

February 15, 2011 at 11:41 pm02 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Machiavellisme Terkait Pencurian Oleh Remaja
Abstract
One of current social psychology form is theft action that did by stripling. It is caused because no answer on happening problem. A lot of it theft action at Indonesian in particular at metropolises, concerning penegakan’s frail sentences that did by law enforcer. Law at analogizes as society. Suppose repressive walking law, since state is power who can act arogan after its society welfare. Theft action shall be settled as soon as possible before evoked phenomenon is scared that excessive in society.
Keywords: Stripling, state, law, theft action.
A. Pendahuluan
Sejak manusia pertama Adam dan Hawa diciptakan, tindakan pencurian telah muncul. Di dalam Kitab Kejadian 3:1-24 dijelaskan bahwa Hawa mengambil buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Bahkan di jaman serba teknologi ini, pencurian selalu selangkah lebih maju. Istilah pencurian sendiri dapat diartikan sebagai perkara (perbuatan dsb) mencuri (Tim Redaksi Kamus Bahasa Indonesia, 2008:301). Sedangkan menurut Pasal 362 Wetboek van Strafrecht, definisi pencurian disejajarkan dengan barang siapa mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum.
Dari dua pengertian di atas, pencurian secara umum terkait dengan mengambil barang yang disertai niat dan kesempatan. Kesemuanya berkolerasi terhadap suatu tindakan yang termasuk dalam psikologi sosial. Apabila kita melihat realita, pencurian setiap hari terjadi. Hampir setiap hari media cetak dan media elektronik meliput pencurian.
Adakalanya juga pencurian meningkat karena “kharisma” seorang tokoh dalam dunia kriminal. Secara tidak langsung dengan seringnya pemberitaan tersebut, menjadikan pencurian suatu hal yang biasa di dalam masyarakat. Pencurian menyebabkan gejala katarsis (yang mana keadaan psikologis ini dapat berbahaya bagi kondisi mental dan psikologis yang bersangkutan jika semua kemarahannya tetap terpendam atau tidak terlepaskan) bagi individu yang mengalaminya (Tomy Michael, 2011).
Di dalam tulisan ini, penulis menitikberatkan pencurian yang dilakukan oleh remaja. Hal ini menarik karena masyarakat akan memberi stigma buruk kepada remaja. Demikian terjadi karena banyaknya remaja yang berubah tidak taat kepada orang tua melainkan mereka berupaya mencari makna kebebasan dengan caranya sendiri. Selain itu, remaja merupakan bibit unggul yang dapat diasah menjadi individu berkompeten di dalam masyarakat. Seringkali remaja merasa kebingungan karena tidak mengetahui jawaban yang pasti atas persoalan yang dihadapinya sehingga timbul suatu pemberontakan dalam dirinya sehingga melakukan tindakan pencurian.
Tindakan pencurian ibarat dua sisi mata uang. Ada seseorang yang mencuri karena telah merencanakan terlebih dahulu dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam konteks negatif (berjudi, meminum minuman keras), ada juga seseorang melakukannya dengan alasan positif (memenuhi biaya sekolah anak, membayar biaya persalinan isteri dan persoalan keluarga lainnya) serta seseorang melakukan tindakan pencurian karena mengidap kleptomania (kelainan jiwa yang menyebabkan seseorang memiliki keinginan kuat untuk mencuri walaupun benda yang dicurinya itu tidak berharga bagi dirinya).
Pertarungan negara untuk melawan tindakan pencurian menimbulkan dilema. Di satu sisi, negara ingin benar-benar menciptakan rasa aman di masyarakat dengan cara memberi hukuman seberat-beratnya namun di sisi lainnya negara harus mempertimbangkan berbagai faktor mengingat pelaku tindakan pencurian adalah remaja yang mana mereka harus diberi pembinaan agar tidak mengulangi perilaku buruknya lagi.

B. Pembahasan
Di dalam negara yang sedang berkembang, kejahatan merupakan hal yang lumrah karena kejahatan selalu timbul tanpa melihat perkembangan suatu negara. Kejahatan yang timbul dapat berupa penggunaan dan pengedaran obat-obatan terlarang, pembunuhan, pencurian ataupun pelecehan seksual.
Tetapi apabila tujuan negara menciptakan rasa aman bagi rakyatnya maka negara harus memperhatikan ciri dari negara hukum yaitu supremasi hukum dalam arti tidak boleh ada kesewenang-wenangan sehingga seseorang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum, kedudukan yang sama di depan hukum baik bagi rakyat maupun bagi aparatur (A.V Dicey,1952).
Namun apabila kejahatan yang dimaksud adalah tindakan pencurian oleh remaja terkait negara, maka kita harus memperhatikan terlebih dahulu makna psikologi sosial.
Robert S. Fredman menjelaskan bahwa psikologi sosial adalah suatu kajian mengenai orang lain mempengaruhi tingkah laku individu sedangkan Kenneth J. Gergen dan Mary Gergen mendefinisikannya sebagai satu disiplin yang merujuk kajian sistematik ke atas hubungan interaksi sesama manusia. Bidang psikologi sosial ini ditujukan untuk memahami faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi berbagai tindakan, perasaan dan pemikiran manusia. Tingkah laku manusia sebenarnya juga dipengaruhi oleh kognisi sosial yang meliputi pemikiran, sikap, ingatan dan membuat kesimpulan berkenaan individu lainnya (Azizi Yahaya, 2004:3). Kajian eksperimental psikologi sosial berkenaan tingkah laku pertama dilakukan di Makmal University of Indiana oleh Norman Tripllet (1897) yang sebatas deskriptif dan spekulasi.
Di awal abad ke-20 terdapat dua aliran pemikiran yang mendominasi bidang psikologi sosial. Pertama aliran psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud dan yang kedua adalah aliran behaviourisme oleh John B. Watson yang menitikberatkan pada aspek pembelajaran dan peranan rangsangan luar pada tingkah laku manusia.
Dalam kasus tindakan pencurian oleh remaja, negara harus memperhatikan aspek psikologi. Seperti yang diungkapkan pada bab pendahuluan. Adakalanya kejahatan terjadi karena “kharisma” negatif yang dibangunnya. Contohnya tokoh Vincenco Peruggia yang terkenal di tahun 1911 melakukan pencurian benda seni terbesar sepanjang sejarah. Dia tidak membutuhkan peralatan berteknologi tinggi, tetapi hanya membutuhkan kesabaran, waktu dan beberapa polisi yang sedang tidak berada di tempatnya. Vincenco Peruggia berhasil mencuri lukisan Mona Lisa dan selama dua tahun mampu menyembunyikan kejahatannya hingga pada akhirnya dia menjual lukisan tersebut kepada pemilik galeri bernama Alfredo Geri. Pada saat itulah Vincenco Peruggia tertangkap. Banyak orang yang mengkultuskan Vincenco Peruggia sebagai pencuri kelas dunia.
Psikologi sosial pada umumnya terjadi akibat banyaknya masalah-masalah sosial yang terjadi. Contohnya di awal tahun 1900 merupakan masa imigrasi besar-besaran dari Eropa Timur menuju Amerika Utara sehingga mendorong penelitian yang menghasilkan skala sikap sosial oleh Bogardus di tahun 1925.
Selain itu, faktor kepemimpinan turut andil dalam membentuk psikologis sosial. Definisi kepemimpinan dapat berupa:
1. Perilaku seorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama,
2. Suatu jenis hubungan kekuasaan yang ditandai oleh persepsi anggota kelompok bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai hak untuk merumuskan pola perilaku dari anggota yang pertama dalam hubungannya denga kegiatannya sebagai anggota kelompok,
3. Pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian tujuan tertentu,
4. Interaksi antar manusia di mana salah satunya menyajikan satu jenis informasi tertentu sedemikian sehingga yang lain yakin bahwa hasilnya akan lebih baik jika ia berperilaku sesuai dengan cara-cara yang dianjurkan atau diharapkan,
5. Pengawalan dan pemberian suatu struktur dalam harapan dan interaksi,
6. Tambahan pengaruh yang lebih tinggi dan di atas mekanisme pencapaian dengan arahan rutin dari organisasi,
7. Proses mempengaruhi aktivitas sebuah kelompok yang terorganisasi menuju pencapaian suatu tujuan.
Pada dasarnya juga kepemimpinan terkait dengan kekuasaan. Seperti yang diungkapkan oleh French dan Raven bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam kelompok atau organisasi, dengan kata lain orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi tersebut (Sarlito Wirawan Sarwono, 2005:40).
Untuk saat ini jika kita dapat melihat bahwa kekuasaan berdasarkan aturanlah yang diterapkan di Indonesia. Faktanya dapat kita lihat pada kasus-kasus seperti Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) hingga pencurian biji kakao oleh seorang nenek yang menghebohkan beberapa waktu lalu.
Mengapa terjadi demikian? Karena negara melakukannya agar hukum menjadi tegas pelaksanaannya. Hukum bertindak represif agar masyarakat dapat berubah menjadi lebih tertib. Hukum bukanlah masyarakat itu sendiri (aliran sosiologis). Kemudian apabila pelaksaan hukum terhadap tindakan pencurian oleh remaja, maka tindakan bagaimanakah yang tepat mengatasinya.
Dari prinsip sejarah pemikiran politik, istilah machiavellisme merujuk pada pengertian bahwa cara-cara dan tindakan serta praktik politik kekuasaan hendaknya tidak disangkutpautkan dengan etika moralitas (Ahmad Suhelmi, 2001:132). Pemimpin harus membedakan secara tegas antara kepentingan-kepentingan kekuasaan dengan prinsip-prinsip moralitas. Keduanya merupakan domain yang berbeda (Franz Magnis Suseno, 1986:8). Di dalam melakukan praktik kekuasaan, seorang penguasa diperbolehkan menggunakan moralitas sepanjang moralitas tersebut berguna dalam melanggengkan kekuasaannya.
Sebelum negara menerapkan machiavallisme tersebut, remaja haruslah memperoleh pembinaan, bukan dibina setelah tindakan pencurian terjadi. Remaja sendiri dapat diartikan sebagai anak muda yang berkembang menjadi orang dewasa, yang mulai matang atau pandai berpikir sendiri dalam membedakan antara yang baik dan buruk serta terkait dengan akil baligh atau sudah cukup umur untuk melakukan perkawinan (Hairunnaja Najmuddin, 2007:4). Penyebutan istilah yang tepat adalah perkawinan merujuk adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, sedangkan pernikahan mengarah pada hubungan biologis antara suami dan isteri.
Penelitian lebih lanjut mengapa remaja melakukan pencurian, penting untuk dilaksanakan. Faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu (antecedents). Semakin cepat kita mengetahui faktor pendorong remaja untuk berbuat demikian maka semakin besarlah sisi positifnya (Yahya Don, 2006:42). Awal mulanya dapat dilakukan dari keluarga di mana remaja tersebut tumbuh yang beralih kepada lingkungan sekolah. Tetapi yang paling dominan adalah faktor lingkungan.
Dengan memahami lingkungannya maka kita dapat mengetahui penerimaan masyarakat terhadap remaja tersebut. Sebelum memperoleh “gelar” remaja, maka para remaja tersebut melalui beberapa fase (menurut teori Sullivan) yaitu
1. Fase bayi yang berlangsung sejak bayi dilahirkan hingga belajar berbicara,
2. Fase kanak-kanak yang ditandai dengan mengucapkan kata-kata hingga timbulnya kebutuhan terhadap kawan bermain. dalam fase ini yang harus diperhatikan adalah kemungkinan penggabungan berbagai personifikasi yang berbeda, timbulnya konsepsi tentang jenis kelamin, dan belajar berkomunikasi.
3. Fase juvenil meliputi:
a. Anak mulai belajar hidup bersama orang lain (sosial),
b. Anak mulai tunduk kepada otoritas di luar keluarga,
c. Anak mulai belajar bersaing dan bekerja sama dengan teman sebaya,
d. Timbul perilaku mengisolasi diri dari pergaulan,
e. Timbul perasaan penghinaan dan perasaan kelompok,
f. Mengabaikan keadaan luar yang tidak menarik perhatian,
g. Menjaga perilaku dan kontrol dari dalam,
h. Membentuk stereotipe dalam sikap,
i. Mengembangkan cara sublimasi baru yang lebih efektif,
j. Membedakan antara khayalan dan kenyataan,
k. Timbulnya konsepsi tentang orientasi hidup,
l. Mengembangkan body image dan self perception.
4. Fase praremaja ditandai dengan menjalin hubungan teman sejenis dan kebutuhan akan teman yang dapat dipercaya.
5. Fase remaja awal meliputi pengembangan aktivitas heteroseksual, perasaan birahi pertama menyangkut daerah genital, membutuhkan lawan jenis, timbul banyak konflik akibat kebutuhan seksual, belajar hidup mandiri dan melakukan hubungan jenis kelamin yang berbeda.
6. Fase remaja akhir meliputi aktivitas seksual melalui langkah pendidikan hingga terbentuk pola hubungan antar pribadi yang benar-benar matang sesuai dengan kesempatan yang ada (Sunaryo, 2002:54-57)
Dijelaskan juga bahwa dengan memasuki dunia sekolah dan masyarakat, anak-anak dihadapkan pada tuntutan sosial yang baru dan menyebabkan timbulnya harapan-harapan atas diri sendiri atau dapat dikatakan juga akan muncul banyak tuntutan dari lingkungan maupun dari dalam anak itu sendiri (Singgih D. Gunarsa dan Yulia, 2008:45).
Banyak dari para pelaku tindak pencurian oleh remaja ini dilakukan oleh remaja berjenis kelamin pria. Hal ini terjadi karena masyarakat telah menerima bahwa ciri-ciri jasmaniah berhubungan erat dengan faktor genetik (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2001:76). Apabila kita melihat dari sudut pandang ahli psikologi feminis seperti Hare-Mustin dan Marecek yang menyatakan bahwa seks seharusnya tidak lagi diteorisasikan sebagai perbedaan antar individu namun dikonseptualisasikan kembali sebagai prinsip dari organisasi sosial yang menyusun relasi kekuasaan antar jenis kelamin.
Pemikiran akan hal ini bersifat kontroversial dan sulit untuk dipahami. Maka tidak mengejutkan jika konstruksionisme sosial atau posmodernisme memperoleh sedikit pengakuan dalam psikologi (Dennis Fox dan Isaac Prilleltensky, 2005:255). Berbeda halnya dalam ilmu hukum yang tidak mengenal perbedaan jenis kelamin. Hakim dalam menjatuhkan sanksi lebih dominan melihat dari sisi masyarakat setempat atau melihat umur si pelaku. Sebagai contoh pada kasus persidangan asusila, persidangan dinyatakan tertutup. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga privasi si pelaku maupun korban.
Adakalanya juga hakim lebih tunduk terhadap adat-istiadat setempat, hakim hanya menjatuhkan pembayaran misalnya dengan sejumlah hewan ternak atau sejumlah uang yang ditentukan oleh keluarga korban dan disetujui oleh si pelaku.
Terkait pelaksanaan hukum yang cenderung lambat (bertindak jika sesuatu hal hampir terjadi atau sudah terjadi). Contoh mudahnya yaitu sosialisasi penggunaan sabuk pengaman. Mengapa sosialisasi tersebut baru dilaksanakan beberapa tahun belakangan ini. Seharusnya jika negara menginginkan terciptanya tertib dalam berkendara, maka sosialisasi ini haruslah dilakukan semenjak kendaraan terutama jenis mobil masuk di Indonesia.
Negara termasuk lambat dalam menciptakan ketertiban di dalam masyarakat. Memang patut diketahui bahwa hukum tidak dapat berjalan bersamaan dengan masyarakat karena masyarakat selalu dinamis dari waktu ke waktu bahkan dari detik ke detik. Hukum hanya mampu memberi konsep imajinasi bahwa seperti inilah yang akan terjadi atau dibutuhkan untuk masa mendatang.
Terkait tindakan pencurian oleh remaja ini juga berbenturan dengan apa yang disebut kebudayaan. Di mana kebudayaan tersebut mengandung
a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan,
b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitet kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat,
c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat, 1974:15).
Fakta bahwa kebudayaan cukup mempengaruhi dalam penjatuhan sanksi yaitu masyarakat yang berada di kota modern seperti Surabaya, akan ketakutan melihat sekelompok orang membawa senjata tajam dan melakukan pembunuhan. Namun hal tersebut dianggap sebagai akibat adat jika berlangsung di pedalaman Papua. Contoh lainnya ketika seorang perangkat desa membutuhkan tanah untuk kepentingan umum maka dengan sukarela para penduduk merelakan tanahnya. Lain haklnya dengan tanah di perkotaan, yang berkuasa adalah pemilik tanah itu sendiri dengan bukti kepemilikan.
Prinsip-prinsip psikologi dalam menangani tindakan pencurian oleh remaja benar-benar dibutuhkan. Seperti yang ditegaskan oleh Edward S. Bordin asal Philadelphia bahwa konselor atau terapis dibutuhkan untuk memberikan kontribusi positif dalam proses interaksi kepada perkembangan individu tersebut. Hal krusial dari proses konseling adalah kemampuan untuk menyadari kemungkinan-kemungkinan reaksi para klien dan keadaan reaksi-reaksi pribadi sendiri terhadap mereka. Konseling sama halnya dengan psikoterapi dengan afeksi, motivasi serta kepribadian tetapi berbeda dalam orientasi kognisinya yang dalam pendekatan rasionalnya konseling menggunakan proses problem solving (Ladidlaus Naisaban:62).
Penggunaan konseling tersebut sangat jarang diterapkan kepada pelaku pencurian khususnya remaja dari kalangan bawah. Mereka kerapkali disatukan tempat penahanannya dengan tahanan dewasa. Dampak yang terjadi, setelah menjalani masa tahanan, para remaja tersebut tisak menunjukkan perubahan positif dan sebaliknya memiliki suatu kepribadian kuat untuk melakukan kejahatannya. Mereka memperoleh ilmu dari para seniornya bagaimana menjadi individu yang benar-benar berkuasa.
Hanya dengan kondisi sempurna baik itu dari sisi psikologi dan hukum, kita dapat berharap para pelaku tindakan pencurian oleh remaja ini menjadi berkurang. Sangat tidak mungkin bagi negara untuk menyerap sisi positif dari globalisasi. Seketat apapun bentuk pencegahan itu, sisi negatif pasti akan selalu melekat pada sisi positif tersebut.

C. Penutup
Adolf Hitler pernah berkata “Ada beberapa kebenaran yang sangat terpampang luas di dalam kehidupan, di mana semua orang dapat melihatnya dengan jelas. Akan tetapi karena kebenaran-kebenarannya yang sangat nyata, kebanyakan orang menyepelekan kebenaran-kebenaran tersebut atau mereka setidaknya tidak menganggap kebenaran-kebenaran tersebut sebagai pengetahuan yang patut disadari” (Mein Kampf, 2010:300). Begitu juga di dalam menegakkan hukum khususnya yang terkait tindak pidana pencurian oleh remaja, cara-cara machiavellisme yang dipopulerkan kembali oleh Niccolò di Bernardo dei Machiavelli terasa tepat. Namun cara-cara tersebut menjadi tidak tepat jika negara tidak menggunakan pendekatan secara psikologi dalam mengurangi tindak pidana pencurian oleh remaja. Negara sebagai pemegang kekuasaan yang berhak melakukan apa saja, harus memberi instruksi kepada aparat penegak hukum agar mengutamakan konseling dalam penyidikan terhadap remaja yang terkait dengan tindak pidana pencurian. Para remaja wajib didampingi oleh konselor dalam menjalani pemeriksaan tahap awal hingga individu yang bersangkutan memiliki keberanian untuik kembali ke dalam masyarakat. Maka dengan itu akan muncul pertanyaan, mungkinkah segala sesuatu dikaitkan dengan hukum tanpa berdampingan dengan ilmu lainnya. Setidaknya machiavellisme baru dapat diterapkan jika hampir separuh jumlah remaja di Indonesia melakukan tindak pidana pencurian.
Bibliografi

A.V Dicey. Introduction to The Study of The Law of The Constitution. Mac Milan and Co. Limited. 1952.

Adolf Hitler terjemahan Ribut Wahyudi, Sekar Palupi dan Dwi Ekasari. Mein Kampf. Yogyakarta: Narasi. 2010.

Ahmad Suhelmi. Pemikiran Politik Barat Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. Jakarta: Gramedia. 2001.

Azizi Yahaya, et. all. Psikologi Sosial Alam Remaja. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing. 2004.

Calvin S Hall dan Gardner Lindzey. Psikologi Kepribadian 1 Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius. 2001.

Dennis Fox dan Isaac Prilleltensky terjemahan Achmad Chusairi dan Ilham Nur Alfian. Psikologi Kritis Metanalitis Psikologi Modern. Jakarta: Teraju Miza. 2005.

Franz Magnis Suseno. Kuasa dan Moral. Jakarta: Gramedia. 1986.

Hairunnaja Najmuddin. Memahami dan Membimbing Remaja Nakal. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing. 2007.

Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. 1974.

Ladidlaus Naisaban. Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran dan Karya. Jakarta: Gramedia. Tanpa tahun.

Sarlito Wirawan Sarwono. Psikologi Sosial Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka. 2005.

Singgih D. Gunarsa dan Yulia. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 2008.

Sunaryo. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2002.

Tim Redaksi Kamus Bahasa Indonesia. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008.

Tomy Michael. Machiavelli dan Gayus. Harian Duta Masyarakat. Senin 10 Januari 2011.

Yahya Don. Psikologi Sosial dalam Pendidikan. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing. 2006.
JURNAL PSIKOLOGI SOSIAL “FENOMENA” UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA. VOLUME VI NOMER 02. NOVEMBER 2010.

Polisi Sibuk Menilang

February 1, 2011 at 11:41 pm02 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Polisi Sibuk Menilang
Saat ini, polisi di Kota/Kabupaten Malang asyik dan sibuk menilang pengendara sepeda motor yang tak menyalakan lampu di siang hari. Jujur, saya sangat tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Lampu sepeda motor tidak didesain produsennya untuk dinyalakan pada siang ataupun pagi hari. Sementara masih banyak truk bobrok dengan muatan berlebih plus asap hitam. Masih banyak mahasiswa yang tak mengenakan helm menuju kampus karena kosnya sangat dekat dengan kampus. Padahal ada polisi dan bersikap kurang respons saja.

Masih banyak rambu-rambu lalu lintas yang tidak terpasang semestinya (kurang jelas, roboh ditiup angin). Masih banyak mobil-mobil mewah yang menggunakan tanda nomor kendaraan bermotor ‘palsu’ (angkanya dijadikan huruf, berwarna hitam semua tanpa garis putih, dari bahan plastik), polisi pun abai. Apakah polisi cukup sering merazia kendaraan roda empat atau lebih untuk mengetahui apakah mereka membawa ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, P3K (pasal 278 UU 22/2009)? (Surya, Selasa 1 Februari 2011)

Oges Lecep

January 27, 2011 at 11:41 pm01 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Oges Lecep
Mungkin Anda akan menyipitkan mata dan berpikir untuk mengerti judul di atas. Begitulah, bagi siapapun yang baru pertama kali berkunjung ke kota Malang. Selain banyaknya bangunan peninggalan Belanda, Malang juga terkenal dengan bahasa walikan (kebalikan).
Suatu saat, ketika saya akan membayar biaya browsing di warung internet. Sang kasirpun berkata “Makasih sam…”. Saya pun membalasnya “Sam apa tho maksudnya Mas…saya bukan sam…”. Sambil tersenyum, kasir tadi berkata “Sam itu maksudnya Mas…biasa walikan Mas…”.
Rupanya, kera ngalam (sebutan untuk orang Malang yang berasal dari kata arek Malang) menciptakan suatu tren berbahasa yaitu dengan membalikkan kata dalam suatu kalimat atau seluruhnya. Pernah juga saya menjadi bingung ketika akan bertandang ke kos-kosan teman dengan angkot. Di kaca depan angkot tertulis Irasojra-Oyonid-Irasgnudnal dan sesuai pesan teman, bahwa saya nanti harus mencegat angkot biru dengan tulisan ADL. Dengan ragu-ragu saya menaiki angkot tersebut walaupun tulisan ADL benar-benar terlihat jelas. Rupanya tulisan tadi dibaca Arjosari-Dinoyo-Landungsari.
Tulisan walikan ini, juga banyak terpampang di sebagian warung-warung dagangan makanan di sekitar alun-alun kota Malang. Tersedia odag-odag, nasi lecep, maya goreng dan tahu rupmac maksudnya gado-gado, nasi pecel, ayam goreng serta tahu campur. Saya juga pernah menjumpai rumah makan cukup laris, entah karena iseng atau alasan apa. Di daftar menunya tertera pac yac (cap cay), uaitewk suber (kwetiau rebus) dan ada satu menu cukup rumit melafalkannya yaitu rumaj gnerog krispy iakap kobmol sadep (jamur goreng krispy pakai lombok pedas). Untuk membacanya akan menguras tenaga kita sehingga kita akan bertambah lapar. Hehehe…
Walikan-walikan ini juga merambah isi SMS. Ketika seorang teman ingin mengajak untuk bermain futsal, maka diapun meng-SMS yang isinya,”Tom, ayo main lastuf, maj 4 bawa teman 1 lagil biar pas itnan mainnya, cap cus…”. Walah-walah membacanya saja membuat jengkel, dan akhirnya saya pun mengerti artinya setelah 10 menitan memandang layar Handphone (HP) yaitu “Tom, ayo main futsal, jam 4 bawa teman 1 lagi biar pas nanti mainnya, segera…”.
Di satu waktu perkuliahan tepatnya sesi diskusi, seorang teman meminta persetujuan atas argumennya. Tanpa disangka, dosen menjawab “oyi betul…”. Seluruh isi kelas terpaku mendengar kata “oyi” yang berarti “iya” keluar dari bibir pak dosen.
Kata walikan ini telah menjadi kebiasaan bagi warga kota Malang. Tidak memandang individu, semuanya mahir bercuap-cuap walikan. Ibarat mengisi teka teki silang, ada kepuasan tersendiri jika kita mampu mengartikan tulisan-tulisan walikan tersebut. Hingga saat ini, saya masih belum mampu mengetik SMS walikan dengan cepat.
Jadi, apabila Anda berwisata ke kota Malang. Anda harus siap-siap menjumpai tempat-tempat bernama aneh walaupun tempatnya tidak seaneh namanya. (Surya, Kamis 27 Januari 2011)

Machiavelli Dan Gayus

January 10, 2011 at 11:41 am01 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Machiavelli Dan Gayus
Ketika seorang pembaca yang bernama Devina menulis bahwa dia bertemu dengan Gayus, maka berita tersebut menjadi heboh. Banyak orang menjadi emosi. Mengapa Gayus begitu mudahnya lolos dari tahanan. Gayus membuat heboh Indonesia di tahun 2010 hingga tahun 2011.
Seharusnya pihak berwajib atau siapapun yang terkait masalah Gayus, tidak wajib untuk mempercayai apa yang dikatakan Ibu Devina. Karena patut diketahui juga bahwa ada teori yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki tujuh kembaran di seluruh dunia. Begitu juga Gayus memiliki kembaran sebanyak enam orang lagi di belahan negara lainnya.
Saya pun sering melihat sosok Gayus bahkan semenjak Gayus belum populer. Gayus yang saya lihat adalah seorang pegawai di dalam kampus. Karena dengan mempercayai begitu saja tanpa berusaha untuk memperbaiki sistem keamanan yang ada, ibarat menunjukkan kebobrokannya kepada publik. Kita bukan tinggal di negara tanpa hukum. Kita juga bukan masyarakat yang langsung main hakim sendiri ketika ada seorang keterbelakangan mental sedang mendorong sebuah sepeda motor. Curiga yang berlebihan tetaplah tidak baik. Tampaknya juga Gayus menerapkan sebagian teori Machiavellisme dalam setiap kasusnya. Machiavellisme yang telah ada semenjak manusia Adam dan Hawa kemudian dipopulerkan lagi oleh Niccolo Machiavelli. Teori ini lebih berorientasi kepada praktik kotor seperti yang dilakukan Gayus.
Seyogyanya dengan banyaknya ulah Gayus yang telah merobek-robek bendera hukum di Indonesia, kita harus segera melaksanakan hukum secara represif. Kita kesampingkan sejenak pemikiran bahwa hukum itu adalah masyarakat. Sebab jika kita tidak segera bertindak represif, maka keadaan hukum di Indonesia akan tetap jalan di tempat. Para pelaku KKN tidak akan memiliki rasa takut. Mereka tetap saja tumbuh subur di Indonesia. Adakalanya negara bertindak otoriter walaupun timbul pertentangan dimana-mana. Gayus tampaknya juga terkena “gejala” katarsis yang mana keadaan psikologis ini dapat berbahaya bagi kondisi mental dan psikologis yang bersangkutan jika semua kemarahannya tetap terpendam atau tidak terlepaskan.
Mudah-mudahan saja setelah surat pembaca ini muncul, saya tidak diciduk aparat karena telah melihat Gayus sejak lama. Mari kita benahi sistem hukum di Indonesia demi kita semua. (Duta Masyarakat, Senin 10 Januari2011)

Meningkatkan Semangat Bersekolah

January 7, 2011 at 11:41 pm01 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Meningkatkan Semangat Bersekolah
Rasanya anak-anak sekarang tidak memiliki niat untuk bersekolah karena semakin mudahnya mereka memperoleh informasi. Cukup dengan sebuah komputer atau laptop yang terkoneksi dengan dunia maya, maka segala informasi akan diperoleh. Baik itu informasi yang belum diajarkan pada bangku kelas 3 SD (seperti pelajaran mengenai rumus-rumus kimia) hingga informasi yang tidak diajarkan di sekolah (seperti cara membuat obat-obatan terlarang).
Seharusnya para guru benar-benar menomorsatukan bagaimana agar para murid semangat kembali bersekolah, mereka harus menjadikan sekolah sebagai bagian hidupnya. Seringkali para orang tua murid lebih memilih untuk mensekolahkan anaknya di sekolah swasta. Biarpun mahal yang penting anak menjadi pintar.
Sebaiknya pemikiran sekolah swasta lebih unggul daripada sekolah negeri segera dibuang. Karena cerdas atau tidaknya seorang murid semata-mata karenakemampuan dirinya sendiri.
Guru tidak memegang posisi dominan dalam kepintaran anak. Guru seharusnya juga wajib melakukan penelitian yang poinnya menuju peningkatan semangat anak dalam bersekolah. Kita juga sering melihat di suatu pulau terpencil, bahwa seorang anak lebih suka bekerja daripada bersekolah karena orang tuanya berkata “untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi, nanti juga jadi nelayan seperti bapak”.
Dari ilustrasi tersebut, sekolah tidak hanya sekadar memberi pelajaran atau memberi hafalan. Sekolah wajib juga memberi ilmu pengetahuan yang tepat bagi seorang anak. Artinya jangan sampai keahlian guru digunakan tidak pada semestinya. Sebagai contoh saja, saya memliki seorang teman yang bergelar sarjana hukum namun keahlian hukumnya menjadi sia-sia belaka karena dia menjadi seorang guru SD yang mengajar Matematika. Kebetulan juga teman saya cukup mahir dalam hitung-hitungan. Nah , jika terjadi demikian siapakah yang patut disalahkan?

Jadi alangkah baiknya juga jika suatu mata pelajaran diasuh oleh individu yang berkompeten. Sekolah bukanlah ajang pamer embel-embel seperti berstandar internasional, dwi bahasa (Indonesia dan Inggris), bebas biaya resmi (namun tetap saja ada pungutan), gedung yang bertingkat, ruang kelas ber-AC, dan kegiatan ekstrakurikuler yang wah (seperti golf atau bowling).
Sekolah adalah tempat menuntut ilmu. Jika para pihak yang berkwenangan dalam mengurus pendidikan di Indonesia selalu mengganti secara rutin sistem pendidikan yang diguanakn dalam sekolah mungkin saja suatu saat nanti, sekolah akan tinggal nama saja. Jadi tanpa bersekolah, seseorang dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas. (Duta Masyarakat, Jumat 7 Januari 2011).

Apakah dengan membayar dijamin beres?

December 8, 2010 at 11:41 pm12 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah dengan membayar dijamin beres?
Tidak terbayangkan jika rencana pengenaan pajak bagi warteg segera direalisasikan. Ketika kita akan membayar secangkir kopi hangat, pasti sang penjual berkata “Empat ribu rupiah sudah termauk pajak”. Lantas bagaimanakah jika seorang abang becak atau kuli bangunan yang ingin mencicipi kopi dengan sebatang rokok kretek? Kehidupan mereka saja sudah pas-pasan, ditambah dengan pajak.

Pemberlakuan pajak ini bisa menjadikan para pemilik warteg tidak jujur. Mungkin saja ketika petugas pajak akan datang, mereka akan cepat-cepat menyembunyikan sebagian menu makanan atau minumannya agar hasil penjualan sehari tidak melampaui batas minimal yang telah ditentukan sehingga mereka pun lolos dari kewajiban membayar pajak.

Seharusnya sebelum pajak warteg diberlakukan, pemerintah harus mempertimbangkan langkah arif pertama yaitu dengan menyediakan lokasi strategis bagi para pemilik warteg. Jangan sampai terjadi, petugas pajak menarik pajak dari warteg yang berdiri di atas trotoar atau di bantaran sungai. Apakah ada jaminan setelah membayar pajak, tidak akan terjadi penggusuran atau obrakan? Malah yang terjadi semakin ricuh. Bisa-bisa ika terjadi penggusuran, para pemilik warteg menuntut agar pajak yang terdahulu segera dikembalikan. Yang jadi pertanyaan, maukah negara mengembalikan pajak tersebut? Jika hal ini terjadi maka pemungutan pajak hanyalah demi uang semata saja.

Langkah arif kedua yaitu lebih giat mensosialisasikan bagi pemilik warteg agar tidak menggunakan bahan berbahaya di dalam makanan atau minuman yang akan dijual kepada konsumen.

Langkah terakhir yaitu dengan mensosialisasikan betapa pentingnya untuk menjaga kebersihan. Seringkali warteg membuang sampah sembarangan, mereka tidak malu untuk melemparkan sebuah tas kresek berisi sampah ke dalam sungai.

Yang patut diantisipasi adalah penarikan ganda, dalam arti sedikit dari para pemilik warteg yang paham akan perbedaan antara pajak dan retribusi. Bisa saja setelah pajak diterapkan, ada oknum yang menarik retribusi dengan alasan yang tidak masuk akal. Kita harus mampu memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya terhadap para pemilik warteg tentang pajak tersebut. Setidaknya mereka tidak hanya membayar tanpa mengerti seluk beluknya. Dan yang pasti sebelum terjadi pengenaan pajak aneh-aneh dimasa mendatang, segeralah mereformasi keberadaan pengadilan pajak. (Duta Masyarakat, Rabu 8 Desember 2010).

Tsunami Kristen

November 14, 2010 at 11:41 pm11 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tsunami Kristen
Ketika bencana tsunami di Aceh beberapa tahun silam, Indonesia berduka dan negara-negara sahabat mengirimkan bala bantuan. Ketika gempa di Yogyakarta, Indonesia pun merasakan duka yang mendalam. Tentu saja Tuhan memberi peringatan agar kita kembali pada jalan yang benar. Kita harus lebih menjaga alam (dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon sembarangan). Kita juga harus membantu orang lain tanpa membedakan suku, agama, ras, dan adat istiadat. Kita tidak perlu menjadi presiden terlebih dahulu, agar bangsa ini dapat menjadi yang terbaik di antara bangsa-bangsa lainnya. Karena presiden sendiri tidak akan dapat makan jika tidak ada seorang petani. Seluruhnya saling membutuhkan. Alam membutuhkan manusia agar hasilnya bisa kita rasakan, manusia membutuhkan alam agar dapat bertahan hidup, dan semuanya berpusat kepada Allah yang maha tinggi.
Bencana yang silih berganti menunjukkan bahwa Dia masih mengingat dan sayang dengan kita semua agar mau tetap hidup berkenan di hadapan-Nya. Dia adalah Allah, Hakim yang adil (Maz 75) dan Dia adalah Allah, Hakim segala bangsa (Maz 76). Jadi marilah kita berusaha untuk tetap bersyukur kepada-Nya dalam segala hal. Sebab bagi orang yang percaya pada Yesus, TSUNAMI adalah Tuhan Suruh Umat-Nya Agar Mengingat Ia. (BERITA KATEDRAL Paroki St. Perawan Maria dari Gunung Karmel HARI MINGGU BIASA XXXIII (No 45 Tahun XI Edisi 550 – 14 November 2010)).

ATM Dan AC

October 7, 2010 at 11:41 am10 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

ATM Dan AC
Ketika udara malam hari terasa panas layaknya siang hari, hal tersebut menandakan bahwa manusia masih tidak peduli terhadap Bumi. Banyak di antara kita masih gemar mengepulkan asap rokok tanpa rasa malu, banyak juga angkutan umum yang tidak mempedulikan gas pembuangannya hingga kegemaran untuk membakar sampah.
Saya pun mencoba melakukan penelitian sangat sederhana terkait dengan pemanasan Bumi yaitu dengan berkeliling dari bilik Automatic Teller Machine (ATM) yang satu menuju bilik ATM yang lainnya. Dengan berbekal kartu yang bertuliskan ATM bersama, saya selama dua minggu melakukan pengecekan saldo. Walaupun telah di cek pada ATM manapun dan dimanapun, jumlah saldo saya tetaplah sama. Tujuan saya yaitu untuk mengetahui ATM milik bank manakah (tentu saja yang tergabung dalam kelompok ATM bersama) yang menonaktifkan pendingin udaranya (AC) pada malam hari atau yang tidak memasang AC di dalamnya.
Ternyata hampir semuanya menghidupkan AC selama 24 jam penuh. Sedangkan sangat jarang terjadi antrian di bilik ATM pada tengah malam hingga hari menjelang subuh. Pada saat mengecek saldo di ATM dalam kampus, AC tetap hidup bahkan udaranya sangat dingin. Begitu juga dengan beberapa ATM di sekitar alun-alun Kota Malang, kawasan Plasa Dieng, kawasan Soekarno-Hatta hingga kawasan terminal Arjosari.
Seluruh AC aktif di dalam bilik ATM yang saya kunjungi. Dari 14 ATM yang saya kunjungi, hanya terdapat tiga bilik ATM yang dalamnya sangat panas dan pengap. Bukan karena AC sengaja dimatikan demi hemat energi, melainkan AC dan mesin ATM yang mengalami kerusakan. Mungkin saja karena dihidupkan terus menerus dan mesin ATM yang kehabisan uang. Tidak peduli jam menunjukkan pukul 22.00, AC tetap hidup menyejukkan bilik ATM.
Dilihat dari banyaknya pihak bank yang memberi kenyamanan bagi nasabahnya melalui pemasangan AC di bilik ATM selama 24 jam, menunjukkan bahwa tidak terdapat inisiatif bagaimana agar Bumi tetap ramah kepada kita semua. Seharusnya dengan embel-embel ATM bersama, mereka juga bersama dalam menjaga Bumi. Tidak hanya bersama dalam hal yang terkait dengan perekonomian saja. Saya yakin, tidak mungkin para nasabah akan menarik seluruh saldonya dan pindah menjadi nasabah bank lainnya karena bilik ATM-nya tidak ber-AC. Rata-rata seseorang menghabiskan waktu sekitar lima hingga delapan menit di dalam bilik ATM.
Bisa jadi, penggunaan AC bertujuan agar suhu mesin ATM tetap stabil ataupun memberi kenyamanan bagi para nasabah. Namun jika alasan agar nasabah nyaman pada saat bertransaksi di dalam bilik ATM, saya menyatakan bahwa hal tersebut tidak benar. Karena yang terpenting kita merasa aman pada saat di dalam bilik ATM tanpa khawatir terjadi tindak kejahatan. Seharusnya menjelang sore hari, AC wajib dimatikan. Walaupun masalah ini terkesan sepele, namun coba kita bayangkan jika seluruh bilik ATM tidak menggunakan AC, tentu saja akan mengurangi panas di Bumi. Bukankah ada kata bijak, perbuatan baik sekecil apapun akan tetap berguna walaupun hanya sekadar memungut sehelai daun yang jatuh dari pohon. Setidaknya tujuan utama orang ke ATM bukanlah untuk menyejukkan tubuhnya. (Surya, Kamis 7 Oktober 2010)

Capcus dan Ingat Lapindo

April 11, 2010 at 11:41 pm04 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Capcus dan Ingat Lapindo
Kasus mafia perpajakan dengan aktor Gayus, telah menyita perhatian seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahkan negara tetangga. Berbagai kritikan tajam pun muncul terhadap kinerja aparat penegak hukum. Kepercayaan publik terhadap Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai menjadi menurun walaupun kenteri keuangan telah merespon cepat kasus tersebut.
Dengan terjadinya kasus-kasus besar (penangkapan pelaku teriris oleh Densus 88, penerbitan buku kontroversi Gurita Cikeas, kasus Susno Duadji, bank Century hingga kasus mafia pajak) belakangan ini. Menurut saya, pemerintah seolah-olah menggiring masyarakat untuk melupakan sejenak mengenai kasus luapan lumpur Sidoarjo. Tetapi yang lebih penting lagi, pemerintah harus tetap fokus juga terhadap penanganan lumpur Sidoarjo dan ganti kerugian terhadap korban lumpur tersebut.
Kita harus tetap fight melawan keterpurukan di dalam bangsa ini. Serta tidak lupa memberi apresiasi positif terhadap kinerja pemerintah dalam membangun bangsa Indonesia menuju pada kehidupan yang lebih baik lagi. Setidaknya para elite politik di Indonesia dapat memahami istilah Capcus (segera)… dengan tepat. (Duta Masyarakat, Kamis 8 April 2010).

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.